Percayalah, Saya Bisa Menulis Tuan

Leave a comment

 

Kata-kata bersiul menyusup pada kerah baju baruku

Perlu hal yang riang setelah lelah seharian..

Walau hanya satu stel piyama murah, rasa ingin menulis menarikku pada lempung diksi yang menyerang bertubi

Kupetik isu ranum yang tak jua bersolusi

Perih curahan hati ibu yang rumahnya tergusur

Nasib guru honorer yang terlambat senggamai penat

 

Aku bukan tidak mampu menulis ulang kejadian

Tinta mendadak sendat, bau asin keluar dari ujung penyangga,  kekasihku si pena, menangis

 

Biarlah aku berhenti mewartakan nyata jadi sepucuk kata

Biarlah aku bersajak jorok stensil menghibur

Singgah, berlalu, karena kata dalam warta penghias headline besar bercorong kecil

 

Aku bengong sendiri, kembali menjadi penyair dengan jiwa aktivis di paru-paru kiri

Saya Bapakmu Bukan Ayahmu

49 Comments

Entah mengapa, saya tidak pernah bisa bersahabat dengan Bapak.

Selalu ingat masa kecil, ketika itu semua murid di kelas disuruh membuat puisi tentang ayah, lalu saya buat puisi pertama dalam hidup – Tentang Ayah. Puisi itu paling besar nilainya diseluruh kelas 3 SD dan ibu guru menyuruh saya membacakannya di depan kelas.

Sepulang sekolah, Bapak sedang asyik baca Koran di ruang tamu, dengan tersipu saya memamerkan karya itu, dibacanya puisi “Tentang Ayah”, matanya nanar dan Bapak lama terdiam, lalu berkata, “Buat siapa ini? Siapa ayah?”

Puisi itu seakan kosong, karena saya menyebut kata “ayah” disana bukan “bapak” sebagaimana biasanya. Mungkin beliau iseng, mungkin pula tersinggung.

Dimulailah jarak antara anak dan bapak. Membuat saya selalu takut dan menjadi pembohong kecil. Apa yang dimata saya benar, belum tentu benar versi bapak. Selalu begitu. Hingga suatu saat, saya melakoni sebuah pertunjukan yang cukup besar di Gedung Kesenian Tasikmalaya, Bapak tidak masuk dan menonton anaknya. Saya yang ketika itu berusia 13 tahun, sangat ingin ditonton. Namun kenyataannya, Bapak tidur di mobil sambil mendengarkan radio, menunggu di luar dengan alasan, “Males nonton, harus bayar, sayang bayar 5000.” Jujur saya sakit hati, tapi Bapak adalah Pendekar Kebenaran, apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang harus saya ikhlaskan.

Saya mulai banyak menulis, tentang apapun, tentang keinginan-keinginan masa kecil yang sulit tercapai, tentang uang saku yang cukup untuk jajan puas bila dikumpul tiga hari dan tentang teman-teman yang memusuhi saya karena saya pencuri. Ya, saya mencuri cokelat di supermarket karena saking inginnya tapi tidak punya uang. Lalu dipanggil guru BP dan seluruh sekolah mempermalukan, tapi sampai detik ini Bapak tidak pernah tahu. Jangan sampai tahu.

Saya sangat cinta Bapak makanya saya sering duduk diam di sebelahnya, menunggu diajak ngobrol. Inginnya saya curhat banyak, tapi belum selesai saya mengutarakan pendapat, Bapak selalu menyanggah dengan arogan mengaitkannya dengan kehidupan pada masanya. Dan tidak dapat dipungkiri, obrolan diisi dengan rally-rally panjang perdebatan dua era yang berbeda.

Saya tetap cinta Bapak, walau Bapak pernah memangkas habis poni saya agar saya malu mengikuti rapat Karang Taruna RT, rapat temu ganjen remaja, kata Bapak. Saya tidak setuju, lalu dimulailah perang mulut, saya merasa benar, apalagi Bapak. Setelah menggunting poni, ucapan-ucapan saya membuat bapak berang hingga main tangan, saya ditampar lalu di dorong ke pintu, muka dan hidung saya berhasil mendarat di gagang pintu. Alhasil, separuh wajah saya biru. Itu hari menjelang ujian di sekolah saya, dengan terpaksa saya ke sekolah dan bilang sama teman-teman wajah biru ketabrak becak. Bapak minta maaf, tapi jarak itu belum luluh dan semakin lebar. Bapak yang pemarah pernah memecahkan gelas dan lagi-lagi saya tertimpa musibah. Beling pecahan gelas menancap di telapak kaki saya lalu memanjang hingga menjadi luka yang dalam. Bapak panik dari situ Bapak menangis, “Bapak sayang sama Intan, Bapak gamau salah mengajarkan, Bapak harus keras karena kamu anak pertama dan satu-satunya perempuan. Maafin Bapak lagi ya.”

Saya si penyanggah, si anak tak mau kalah, cuma menangis dan memeluk Bapak. Dalam hati saya buat tekad harus sukses buat bapak bahagia. Ternyata hancurnya gerbang jarak antara saya dan Bapak adalah awal dari perjuangan hidup. Bapak di PHK, untungnya keluarga saya sangat sederhana. Tidak ada perubahan yang kentara, menu makanan di rumah tetap sama, dan Bapak enggan dikasihani.

Dengan tabungan secukupnya kita membuka toko baju namun gagal, beberapa bisnis Bapak jalani, tapi gagal juga. Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di kelas 3 SMP, semata untuk tidak menyusahkan Bapak. Walaupun awalnya saya tidak disetujui, namun Bapak mengalah pada kemauan saya yang keras. Di usia 17 tahun saya hijrah ke Bandung seorang diri dan selesai kuliah saya pindah ke Jakarta dengan berbekal tabungan pribadi.

Saya berbohong sama Bapak, hidup saya di Jakarta, 8 bulan tanpa kerja yang jelas, semua kerjaan saya ambil. Tapi saya diam dan sama sekali tidak cerita sama keluarga, sampai suatu saat saya lelah sendiri. Dalam doa saya bilang sama Tuhan, “ Saya kan janji bikin Bapak bahagia, izinin saya dapat kerjaan yang bener ya Tuhan, saya pengen de anton terus kuliah, saya pengen bantu Bapak.”   Hebatnya kekuatan doa meminjam nama Bapak, besoknya saya diterima kerja dan bisa kuliahin adik saya.

Sekarang saya rindu serumah sama Bapak, rindu dimarahi, dibentak dan rally debat kusir hingga dini hari. Saya ingin tinggal bareng Bapak seperti waktu saya remaja. Tetapi itu tidak mungkin. Bapak sudah nyaman dengan hidup di desa dan saya harus bertahan disini demi Bapak dan masa depan adik-adik saya.

Kemarin Bapak kirim sms, “Malem ntan dah bo2?lg apa?dah drmh?sibuk aja ya? Jgn lupa mkn n bnyak istirahat ya,bpk ma ma2 msh dtsk,adik2 dah dsangkuriang,miss u.”

Saya membalas sejam kemudian, saya sedih, saya tidak bisa berhenti menangis.

Bagaimana pun juga, sekasar apapun Bapak kita, jangan pernah memendam dendam. Tiap ayah, papa, papih atau bapak, punya banyak cara untuk bilang cinta.

Tetap cintai orangtuamu dan berikan perhatian kecil selagi masih diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka.

Terlanjur Figur

Leave a comment

Semalam terjadi keseruan yang luar biasa di linimasa. Tepatnya karena reaksi dari tayangan Mata Najwa yang menggugah. Talkshow yang kerapkali hadir di hari rabu pukul 22.00 di Metro tv, memberikan pengaruh besar dan membuat netizen fokus pada tayangan itu, terlebih kemarin topik yang diangkat adalah mengenai Gebrakan kontroversial tak lunturkan cinta warga pd sosok Ali Sadikin & Jokowi, Nyali Perintis. Banyak sekali pandangan dan penuturn yang dianggap menyejukkan hati masyarakat. Terlebih tentang pemerintahan yang sedang mengalami krisis kepercayaan. Mengenai Ali Sadikin paparan dituturkan oleh anak almarhum yang bercerita betapa gigih ayahny membuat kebijkan yang kontroversi, ada banyak perlawanan dari beberapa kelompok yang berkepentingan, namun Ali Sadikin keras kepala mengubah Jakarta menjadi lebih beradab dan berjiwa seni. Beliau memberikan banyak inovasi dan berani melegalkan judi dan prostitusi untuk menarik pajak dari hasilnya. Walau beda jaman dengan Jokowi, mereka berdua adalah sosok contoh pemimpin idaman masyarakat yang tidak doyan korupsi.

Menjadi menarik ketika, Jokowi memaparkan gaya kepemimpinannya dan pelaksanaan di lapangan ketika dia membentuk Solo dengan beberapa pola pikirnya yang agak nyeleneh. Timbul pro kontra di social media, ada beberapa bentuk kerinduan terselubung lalu meluap menjadi keinginan memiliki Jokowi secara lebih dari beberapa komponen masyarakat. Tindakan Jokowi yang nyeleneh tersebut, dipandang sebagai angin segar di tengah kondisi politik yang carut marut. Diawali dengan gaya merakyatnya yang santai Jokowi tidak seolah ingin disanjung atau mempergunakan kesempatan seolah aji mumpung. Dari tutur yang diucapkan terlihat semangatnya datang bukan lahir dari politik. Dia tidak merasa sebagai politisi karena dia dipilih bukan sebagai orang yang terpandang dan tidak nengeluarkan dana kampanye besar-besaran yang semestinya dilakukan.

Dengan pendekatan kultural dia membangun Solo, di matanya birokrasi di Indonesia itu pintar-pintar, hanya saja menggerakkan organisasinya yang keliru, sistemnya harus dibenahi. Banyak usaha yang dilakukan oleh Jokowi dan mendapatkan tempat khusus di hati masyarakat Solo. Semisal birokrasi pembuatan KTP yang tidak dipersulit dan meminimalisasi pembangunan mall.

Lalu, reaksi netizen di linimasa terbagi menjadi tiga:
– ada kerinduan sosok pemimpin semacam Jokowi kemudian mempunyai keinginan menjadikan hastag Jokowi sebagai trending topic lalu mencalonkan Jokowi menjadi presiden, ada pula yang memutarkan arah menjadi pencalonan Jokowi sebagai ketua PSSI,
– ada selapis minoritas pendapat yang menyerang bahwa euphoria masyarakat Indonesia yang terlalu menaruh harapan besar secara berlebihan pada sosok baru. Tampak jelas golongan kontra ini, cenderung takut menaruh harapan terhadap sosok Jokowi.
– ada beberapa pendapat yang abstain dan tidak mau ikut mempolitisasi keadaan, mereka menikmati linimasa dan hanya berkomentar, belum tentu juga Jokowi mau mengemban keinginan berlebih mengenai dirinya. Dari sosok sederhana yang ingin kembali menjadi tukang kayu, terlihat bahwa Jokowi tidak haus kekuasaan dan nyaman dengan kondisi ia yang sekarang.

Mari kita telusuri beberapa jejak sisa linimasa semalam,

Golongan 1, PRO Jokowi:

“@anharmoha: Kita butuh banyak pemimpin seperti Ali sadikin dan Jokowi dengan humanisme tinggi. Thanks @MataNajwa 🙂 #jokowiforpresident2014”

“@AdityaSani: RT @lalitia: misi #Jokowi u/ Solo: http://bit.ly/k7CIq2 | gini harusnya pemimpin punya misi, realistis & bisa diukur/dipertanggungjawabkan.”

“@Triawan: Joko Widodo for President 2014! Kenapa tidak!”

“@farhandeltafm: jadi ? mending JOKOWI jadi PSSI 1 atau jadi Walikota BAndung ?”

“@SIGkusumawijaya: Dari diskusi dgn beliau di kantornya, beliau mmg tdk prnah punya ambisi jd pemimpin. Rakyatlah yg memilih. #Jokowi http://mypict.me/k7uMa”

Golongan 2, Kontra reaksi:

“@sabai95: Penuh pujian utk #jokowi di TL. Adakah yg bertanya knp Gedung Kesenian Solo akan dirubuhkan utk dibangun mall?”

“@doggudoggu: People are talking about this #jokowi guy like he’s a messiah. Haven’t you guys learned not to trust politicians?”

“@achmad_marendes: Terlalu baikpun bisa jadi aneh. Apa adanya lebih manusiawi.”

“@ilhamsukrai: Sebenernya banyak #jokowi lain, belum saatnya aja mereka keluar”

“@syamsulnyamnyul: #jokowi? saya rasa Ind suka sesuatu yg baru.spt baru terkenal,baru ‘baik’, dan baru2 yg lain.kasihan beliau jika terlalu tinggi nantinya. :D”

“@dimasprasojo: Sorry to say,mslh jokowi,ga usah euforia lah,yg pasti ga usah lempar beban kepemimpinan ke org laen yg seharusnya bisa kita pikul!!!!”

Golongan ke 3, cenderung netral dan abstain:

“@momonthefreak: Saya lebih senang Bapak Jokowi stop disitu saja. Nggak berlanjut ke posisi pemerintahan manapun. Kembali jadi tukang kayu mungkin lebih ok.”

“@agusriono: abis nonton @MataNajwa & dapat 1 kesimpulan klise, setidaknya Indonesia masih memiliki pemimpin yang dapat dijadikan panutan sprt pak Jokowi”

RT @chroniclea3 But don’t get overwhelmed. Secukupnya aja. Simak ceritanya, serap inspirasinya, ambil positifnya. Don’t let vanity ruin em all 🙂

Seru, pendapat yang berwarna-warni, amini yang baik-baik, senyum saja pun juga baik. Mungkin rasa jengah dengan segala drama dan retorika yang menjadikan masyarakat kita skeptis. Tapi kaum penggerak yang inovatif juga tidak kalah banyaknya. Ambil semuanya sebagai hal yang positif dan menginspirasi. Reaksi berlebih, entah itu euphoria maupun impulsif sama saja dengan kita larut pada posisi terpolitisasi.

kata kunci di linimasa: jokowi, perintis, pemerintahan solo, mata najwa, nyali perintis

@intan_ap

Saya dan Keroncong

2 Comments

kroncong2

Orang muda kadang perlu merasa jumawa. Berbangga hati dari karya bangsa dan peristiwa.

        Suatu waktu berjalan-jalan ke pojokan TIM hanya untuk mencari kumpulan buku puisi yang sudah tidak edar. Pojokan itu tidak senyap malah riuh oleh irama yang membuat nyaman.
        Satu musik yang saya gemari. Keroncong. Tertegun dan sekedar bertanya, apakah saya bisa membeli cd-cd yang seperti ini. Seorang bapak yang akhirnya kukenal dengan nama Pak Jose Rizal Manua, bilang, ada beberapa lalu dia menunjukkan tempat dimana cd-cd itu menumpuk rapi. Sudah kukantongi 5 cd, lalu tanpa panjang lebar, segera balik ke kantor untuk segera memutar cd yang baru dibeli.                 Aliran musik ini ternyata tidak sedangkal yang kita pikir, bukan hanya sekedar ukulele sudah pasti keroncong. Ternyata banyak cerita dan liku perjalanan perkembangan musik ini.
         Terkejut dengan Langgam Telomoyo yang legendaris ternyata berasal dari tahun 1910, ada kejutan lain, keroncong masuk Indonesia dari abad ke- 16 dan bukan musik asli Portugis. Keroncong lahir dan berkembang di Indonesia, memang keroncong terinspirasi dari musik Fado, musik asli Portugis, kesamaan dari alat yang digunakan berbunyi crooong, crooong, crooong. Alat sejenis ukulele.
          Namun ada beberapa perbedaan dari Fado dan Keroncong. Ini adalah perbedaan yang mendasar, di dalam keroncong ada alat tiup, flute.Ada banyak jenis keroncong, ada keroncong abadi, ada keroncong stambul, keroncong tugu, sampai suatu ketika saya mencari tahu tentang pola dan sejarahnya, saya berdiam pada suatu titik. Mengapa karya ini begitu mengena dan sampai dengan mudah masuk seperti saat menyesap kopi pertama kali, tanpa sadar saya menitikkan mata, ada satu rindu. Musik yang bagus dengan kekayaan makna.Ada beberapa karya yang dibuat disaat bangsa kita berjuang, kata-kata yang kupikir hanya lirik, kuulangi berkali. Di situ ada sebuah nyata, yang membuat saya mendidih seketika.
         Kita itu tidak pernah dijajah, dalam kurun waktu tiga setengah abad itu kita bertahan dan berjuang. Bangsa kita sangat ramah, tanah kita subur, mereka pun betah. Ada cerita adu domba, dipecah belahlah keyakinan mereka. Perlahan ada sebuah tabir terkuak, suatu saat akan satu tulisan yang khusus untuk membahas itu. Sekarang izinkan saya berdamai sejenak, bermain dengan ayunan suara Tuti Tri Sedya yang merdu rapat-rapat. Sedikit terpejam, saya menggambar halus suasana masa silam. Halaman-halaman sejarah yang tak terpetakan.

Siapakah Sesungguhnya Pencipta Tren?

Leave a comment

Fashion adalah anak zaman. Bergerak dan berkembang mengikuti arus waktu. Mampu mengalir sesuai dengan apa yang terjadi saat itu. Dan sebagai makhluk sosial manusia masuk dalam lingkup sosial yang tidak bisa mengelak dari pengaruh fashion yang ada. Bila kita membeli baju baru, terpikirkan seketika tren apa yang sedang happening. Baik itu segi warna ataupun model. Hingga tidak jarang kita menemukan orang-orang dengan selera yang sama , padahal yang kita tahu setiap manusia memiliki sel otak yang sama lalu bagaimana mungkin selera dalam fashion bisa sama?

Trenlah yang membuat kita sama, begitu hebat pengaruh tren sehingga mampu membentuk budaya , disukai dan digunakan oleh banyak orang. Siapakah pencipta tren fashion? Apakah para desainer kondang dengan ide kreatif tanpa henti, dalam satu malam mereka launching produk, besok pagi sudah terpajang di etalase sebuah butik dengan warna dan model yang nyaris sama. Untuk yang memiliki uang banyak tidak perlu banyak petimbangan, tentu saja mereka akan membeli langsung karya dari desainer tapi untuk sebagian masyarakat mereka cukup membeli barang tembakannya di pasaran yang penting keren dan mengikuti mode tidak masalah itu KW atau asli. Dilihat dari arah pergerakannya pun dunia fashion kita masih perlu mengadakan perubahan pola pikir. Saat ini fashion kita masih cenderung mengikuti dan terbatas pada memodifikasi trend fashion yang sedang terjadi.

Pada intinya, untuk bisa membuat suatu trend baru dalam dunia fashion yang mampu berkembang dan menjadi salah satu arus, kita harus merevolusi trend yang sudah ada . Tidak ada salahnya kita terlibat dalam pengembangan tren tersebut, tapi sampai batas manakah kita terbawa dalam tren. Apakah akan menjadi korban tren seperti orang pada umumnya ataukah masih menyisakan sedikit personality touch yang sesuai dengan karakter? Tren tidak berhak mengatur hidup kita tapi semuanya kembali pada level taste kita. Akankah menjadi follower atau trendsetter?

Are You Ready for a Bad Review?

Leave a comment

Ketika sebuah cita-cita menggantung di tepi dan dua langkah pijak lagi tercapai, pekerja seni mengalami satu proses pemantapan, bukan hanya dari pasar yang mengapresiasi namun dari penentu alur pasar, yaitu media.

Kerap kali media me-review karya dengan beberapa pandangan yang berbeda tergantung dari rasa dan karakter media tersebut. Dan sebagai sebuah karya yang ingin dikenal, tentunya kita membutuhkan dukungan dari media, namun ada kalanya media memberikan review yang kurang mengenakan, tidak perlu didebat atau dipermasalahkan, sekarang bagaimana caranya kita bertahan dan berbesar hati menerimanya, ini dia pendapat dari kakak kita yang telah malang melintang sekian lama di dunia musik ‘hingar-bingar’, Arian13, vocalis dari band Seringai, pada suatu malam dia menuliskan di linimasanya beberapa hal yang dirangkumnya dalam sebuah bahasan “ How to Survive a Bad Review”.

Secara menarik dia memaparkan kalau review itu sudah pasti bersifat subyektif, berarti pendapat dari orang yang mereview, bukan mutlak pendapatnya benar. Media yang akan mendukung musisi dalam berkarya tidak hanya media cetak dan elektronik saja, namun media sosial pun patut diperhitungkan, kalau karya kita mendapat #badreview janganlah berkecil hati, its still publicity, daripada kita tidak mendapat penilaian sama sekali dan itu bisa menjadi kritik membangun. Mungkin awalnya akan merasa kecewa dan kecil hati, tapi tidak perlu berlarut-larut, karena ini bukan akhir segalanya.

Kebanyakan musisi yang mendapat #badreview akan bereaksi defensif, agak sakit hati dikecilkan dan berpikir “ tahu apa sih si X tentang musik gue?’

Tapi reaksi defensif itu seakan menggambarkan kalau karya kita belum siap di apresiasi dan dinilai, disinilah mental kita dipertanyakan, sudah siapkah dipromosikan atau berhenti saja dipromosikan karena belum siap mental untuk dinilai. Karena sedikitnya dalam sebuah #badreview ada sebuah titik kejujuran, pengecualian untuk review yang menyerang fisik musisi tanpa peduli musiknya.

Selain dari musiknya, dalam #badreview biasanya akan mengkritik keseluruhan unsur, cover/artwork, packaging, karena itu satu kesatuan.

Cobalah untuk secara obyektif menganalisa #badreview ini, justru ini akan membuat kita berimprovisasi karya di masa depan. Dan ketika kita menerima #badreview, janganlah ditulis di blog ataupun di jejaring sosial lainnya, its uncool. Kumpulkan saja reviewnya kemudian di evaluasi kembali. Bila kita bereaksi berlebihan dan tidak menerima #badreview tersebut, bisa menjadi bulan-bulanan media, konyol dan tidak penting. Itu akan berpengaruh pada penjualan album. Bila reaksi dari #badreview adalah menerima dan tetap cool, itu justru akan menimbulkan simpati dn kesan yang baik. Sebaliknya bila menanggapinya dengan emosional, media akan memberikan cap yang selalu diingat malah akan menyebar ke publik, “ oh itu band yang dulu marah-marah gara-gara #badreview?”

Sebenarnya #badreview itu adalah opini bukanlah fakta, bila merasa tidak sesuai tidak perlu terlalu diindahkan, lurus saja dan buktikan dengan karya yang lebih baik. Tapi ada juga band yang bersikeras bilang, tidak terpengaruh dengan #badreview namun terus mengungkitnya, malah terlihat seperti menyimpan dendam, itu juga uncool. Apalagi bersikap brutal dan balik menyerang, itu sama dengan mematikan karier, belum tentu karya selanjutnya akan ada yang meriview dan mempromosikan.

Semisal band kita dibandingkan dengan band lainnya dan kurang tepat perbandingannya, jangan diambil hati, maksudnya adalah feel dari musiknya. Jangan langsung mengejudge si reviewer berwawasan dangkal dan merasa paling ciamik, ajak saja berdiskusi secara sopan, cari kesempatan untuk membahasnya bersama. Kalau mendapat #badreview di sosial media jawab saja sederhana dan rendah hati, “terimakasih sudah mendengarkan album kami.”

Kalaupun ingin merespon #badreview secara verbal di media, ada baiknya berkonsultasi dahulu dengan anggota band lainnya dan mengutus seseorang untuk merespon review itu sebelum dirilis. Karena merespon review dengan vulgar bukanlah pilihan, tidak dianjurkan dan akan terkesan norak.

Karya yang keren adalah karya yang siap diinterpretasi dari berbagai sudut pandang, meminjam kata-kata mutiara Denny Sakrie “ Kalau lo bikin musik buat lo sendiri dan ga bisa di apresiasi, apa bedanya lo sama onani.”

Good Music and Great Spotted

1 Comment

Dalam 3 hari kemarin timeline dipenuhi oleh hastag #coachella, kebanyakan diposting oleh para musisi dan penyuka musik. Event ini memang gila, 3 hari berturut-turut, tanggal 15-17 April 2011. Semua penyuka musik menyudut di sebuah daerah di California, Empire Polo Field in Indio. 

Berangkat dari ide ingin membuat konser seperti Woodstock, seru, ada camp site, band bagus dari berbagai negara dan konsep band reuni, dibuatlah Coechella Valley Music and Art Festival di tahun 1999, dengan line up yang happening di eranya Beck, The Chemical Brothers, Tool, Morrissey, Rage Against the Machine, Jurassic 5, DJ Shadow,  Underworld dan beberapa band lainnya. Di waktu itu mereka hanya berlangsung selama 2 hari, karena di hari ke 3 mengalami banyak sekali kendala teknis, walaupun mereka sudah mempersiapkan Massive Attack sebagai band penutup.

good music   Selama 8 tahun mereka konsisten memberikan sajian musik dan festival seni. Dan di tahun 2011, mereka sempat membuat trending topic di sosial media dunia dengan kata kunci #coachella, #onelifetolive, dan #coachellalive. Artis yang menjadi line up di tahun ini adalah Arcade Fire, Kanye West, the Strokes, Animal Collective, PJ Harvey, the National, Bright Eyes, Robyn, Ariel Pink, Interpol, Cut Copy, Crystal Castles, Lauryn Hill, Sleigh Bells, Cee-Lo, Lightning Bolt, the reunited Big Audio Dynamite and Suede, Duran Duran, Erykah Badu, the Black Keys, Titus Andronicus, Best Coast, the Kills, the New Pornographers, Lil B, HEALTH, OFF!, Odd Future, dan the Chemical Brothers. Ditambah penampilan kejutan dari Death from Above 1979 reunited.

Tweet-tweet yang membuktikan betapa menyenangkannya berada di sana:

–       RT@steph: What a wonderful weekend full of amazing people, great music & memories 🙂 Thank You #Coachella

–       RT@marthabosque: I dont quite understand how #coachella works :s

–       RT@soniadris: Had a blast at #Coachella! everything was PERFECT

Dan ada satu postingan dashyat berupa bootleg dari beberapa performer, check this out, its so amazing: RT @zaidan13: #Coachella Amazing collection of fan-uploaded bootleg video #Kanye #Arcadefire #KingsofLeon: http://bit.ly/hV3aN.

California memang sinting, banyak pecinta musik dari berbagai belahan dunia ingin mengumpulkan uangnya untuk menggila disana, dan bila anda tidak sempat datang ke Coechella Valley Music and Art Festival, ada kesempatan untuk datang ke satu perhelatan musik lainnya, masih di California juga, tidak kalah super, Outside Lands festival, dengan line up artis  Girl Talk, MGMT, the Black Keys,Muse, the Decemberists, Erykah Badu, Arctic Monkeys, Beirut, the Roots, Big Boi, Major Lazer, Best Coast, Toro Y Moi, !!!, the Fresh & Onlys, Mavis Staples, Wye Oak, Ty Segall, Little Dragon, Junip, Tamaryn, Vetiver, the Joy Formidable, Big Audio Dynamite, Lord Huron, John Fogerty, and the Vaccines.

Mari kita yang di Indonesia garuk-garuk kepala.

Older Entries